Japan Trip Day 2 - Travelling With Kid

Sebelum lanjut, there're some points I need to tell about travelling with toddler, IMHO ya.
Please have a note that iBro was 18 months old when we were going to Japan. So basically, he was still (direct) breastfeeding and napping time would be twice a day - poop also. 😄



Pospak atau popok sekali pakai, 
ini masalah mungkin sepele tapi akan jadi pertanyaan yang terlintas untuk moms out there yang berencana travelling ke luar negeri dengan anak mereka. Trip kemarin gue putuskan untuk bawa popok 2 pak, sejumlah 48 pcs untuk travelling dengan lama waktu 2 minggu (popok yang gue bawa pada saat berangkat sekitar 4 pcs diluar si 2 pak tadi ya). Popok 2 pak ini gue sengaja gak bongkar di dalam koper, space-nya nanti bisa buat oleh oleh 😝 
Khusus travelling ke Jepang
sebelum berangkat gue banyak cari info, apakah Jepang cukup stroller-friendly apa tidak. Ternyata jawabannya ada yang bilang iya dan ada yang bilang juga enggak. Lemme tell ya, IMHO again ya, Jepang itu sangat stroller friendly. Sangat. Kalian gak akan nemuin gundakan gundakan kayak dipinggiran jalan di Jakarta, permukaan yang gak rata atau berbatuan, lobang di tengah jalan, dan yang paling penting, hampir semua stasiun baik metro subway atau JR dilengkapi dengan escalator dan elevator. Untuk cari tau letak elevator berada, informasinya sangat jelas, tinggal ikuti saja arahnya. Kecuali kalian dikejar waktu, naik turun tangga mungkin akan pilihannya. Tapi kalau gue dan suami sih kemarin mostly selalu menggunakan elevator. Mau letaknya di ujung seperti di stasiun Ueno, kami sangat haus elevator 😂. It took a minute or two to get there, tapi percayalah, those stairs don't fit us apalagi kita loyo loyo begini. 😂 
di Tokyo dan Kyoto, 
Indonesian tourists biasanya pasti ada di jalur sebelah kiri eskalator. Udah pasti jarang banget liat sodara serumpun kita ada di jalur kanan, apalagi di jalur tangga 😝. Sementara di Osaka, jalurnya ada di kanan guys, yang kiri untuk mendahului. Inget inget ini deh terutama pas baru turun di bandara. 
Nursery room, 
actually nursery room itu susah dijumpai di public area di Jepang. Gue nemu waktu ke Sun City Plaza di Ikebukuro. Kebanyakan nyusuin iBro di mana aja tapi paling sering di toilet khusus untuk changing diaper, disability gitu. Gue kagum banget ya, toilet khusus ini ada dimana aja. Yess, dimana aja. Bahkan di Tsukiji Market yang notabene-nya pasar. Gilak banget emang Jepang. Menyusui di toilet emang jadi pergolakan batin banget sebenarnya. Karena udah pasti gak layak, kalian emang mau makan di toilet? Gak kan? Nah menyusui kan sama aja kayak memberi makan anak kita. Tapi, untuk kondisi dimana iBro si nursing cover hater, mending cari aman deh. 
Halal food, 
kalian bisa langsung googling untuk resto halal di daerah yang sedang kalian kunjungi, kalau mau cepet bisa beli onigiri tapi pastikan cek juga karena gak semua onigiri itu halal. Sandwich pun begitu ada yang isinya pork dan chicken dalam satu kemasan. Untuk nasi bento jujur gak pernah coba disana, karena takut aja sih. Kebab juga bisa jadi pilihan karena biasanya pasti halal dan pasti enak! Untuk iBro, dia lebih suka kentang gorengnya ministop. Enyak banget. Penting untuk diingat, selalu cek jam buka resto yang kalian tuju, karena biasanya mereka punya jam buka tutup gitu, sama kayak jalur puncak. 
Rush hours
oia kami pernah bahkan cukup sering naik kereta di rush hours nya mereka, terutama pas jam pulang kerja. Beda ya sama rush hours nya kita 😅. Menurut gue disana masih jauuuuh lebih manusiawi. Kalau KRL Jabodetabek kan udah kayak nonton konser aja tuh. Jadi stroller dilipat aja, anak digendong, aman deh. Gak perlu takut. Kalau anak lagi tertidur pulas di stroller, kalian cek ombak aja dulu. Karena beberapa kali pakai stroller di jam padatnya mereka pun, gak akan ada yang bakal nyinyir ke kalian. 
Itinerary
make it flexible. Dan selalu tekankan pada diri sendiri, kalau kalau semua tidak berjalan sesuai itinerary gak boleh kesel ya. Bawa anak itu beda sama pergi sendiri, idealnya 2 lokasi dalam satu hari, atau paling mentok 3. Kalau gue penting untuk bisa menemukan restoran yang agak leluasa kalau anak mau main, lumayan bisa napas juga. Give your otot pinggang a break


Oke intro nya kepanjangan.

Shinjuku Gyeon Park.
Hari kedua di Tokyo, atau hari pertama jalan jalan. Agendanya tentu saja berburu sakura. Kita putuskan ke Shinjuku Gyeon Park. Oh what a lovely day. Biarpun dingin, tapi hari itu cerah dan matahari bersinar, jadi hangat gitu. Pengalaman ini berkesan banget loh bahkan suami juga bilang begitu. Kenapa? Karena waktu disana iBro tuh kooperatif banget. Mood nya enak. Percayalah, mood kalian bergantung pada mood anak, sama seperti ridha mereka bergantung pada ridha orang tua. Ridha roma. 😅 Kalau kalian punya cukup waktu di Jepang, boleh coba ke taman-taman gitu ya, tapi kayaknya kalau gak lagi musim sakura, kurang greget kali ya.

Yakiniku Panga, Taito-ku, Tokyo.
Mereka punya last order jam 3 sore kalau gak salah, Baru akan open order malam harinya lagi. Jadi waktu itu terburu-buru mencapai kesana. Plus gendong iBro pula. Itu sih kagetnya karena pengalaman pertama ngerasain jadi real japanese yang sangat terbiasa jalan kaki. Karena waktu ke Shinjuku Gyeon Park, jaraknya gak jauh. Dekat banget sama stasiun. Tapi semakin lama kalian akan semakin biasa jalan kaki jarak jauh disana.

Temper Tantrum. 
Jujur, dari awal persiapan gue cuma fokus sama kesehatan iBro. Karena tantrum itu hadirnya kayak banjir 5 tahunan di Jakarta, jarang tapi begitu kejadian bisa berhari-hari. Begitu pula lah pola tantrumnya iBro. Shock berat. I thought it would be a lovely day. Ternyata anak ini tantrum gak lama setelah kami keluar dari Yakiniku Panga. Rewelnya itu bisa diredam begitu gue ajak dia main ke taman dekat situ. Taman disana luas, permainannya cukup banyak dan aman. Disana juga banyak dijumpai burung merpati atau burung dara yang gak takut dideketin manusia, lumayan bisa buat pengalihan iBro. Tapi begitu dijemput bapake, karena kita harus solat dulu (kebetulan bapake nemu mushalla dekat situ), anak ini balik lagi ke tantrumnya. Levelnya meningkat dan yang pasti udah gak bisa ditenangin lagi.

1 jam. Mungkin lebih. Kebayang gak? Sedih banget deh. Mungkin dia capek atau asumsi gue sih, dia kaget beradaptasi dengan cuaca dingin disana. Perut lapar tapi makanan gak selera dimulutnya. Atau, dia ngantuk. Bisa juga karena dia kelamaan di gendong dan duduk di stroller. Emak emak, hobinya nebak nebak. As usual, habis tantrum biasanya dia capek banget dan tertidur pulas. Begitu tidur, kasian banget liatnya. Pas jejeritan, gemes banget. 

Waktu tantrum ini sebenarnya gue lemes banget. Kayak ditampar kenyataan. Pait pait. Gue dan suami sebenarnya punya banyak tenaga dan antusias banget untuk naklukin Tokyo dan seisi-isinya. But when it happened, drop jenderal. Gue inget terakhir kali dia tantrum, biasanya jarak tantrum selanjutnya gak terlalu jauh. Setelah itu, baru akan jeda lama lagi. Hey I am his mom, I know him at his best and his worst. Dan ini terbukti di hari selanjutnya, ah elah spoiler banget. 😅

Apa yang paling ditakutin para ibu? 
Anak tantrum.

Tapi tau gak, apa yang paling ditakutin para bapak?
ISTRI TANTRUM.

Ini gue banget, kalau anak tantrum, ibunya ikutan tantrum. Bapaknya serba salah. Kena semprot terus terusan. Bantu salah gak bantu salah. Diem salah gak diem salah. 

Naritaya Ramen, Asakusa.
Ketemuan sama Chandra teman kerja suami dulu. Gyudon disini enak banget. Aku anen elat deh 😑. 
Makanannya enak, cuma sayang karena tempatnya sempit jadi gak bisa lama lama, ribet kalau bawa anak. 





0 comments:

Post a Comment

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see