si "Kakak" Alea

Azalea.
Panggilannya Alea.


Jauh sebelum saya punya anak, saya terlebih dahulu menjadi tante.
Menjadi tante itu hal yang teramat sangat saya syukuri.
Saya banyak mendapatkan kepercayaan diri dalam mengurus anak yang salah satunya karena sudah lama juga "pegang" Alea. Meskipun kakak (Alea) lebih lama tinggal di rumah orang tua saya baru ketika dia berusia 1,5 tahunan. Tapi semenjak itu saya jadi intens banget sama kakak.

Saya ingat betul sewaktu dia menghampiri saya ke kamar, dia bermaksud mengajak saya bermain.
Lalu saya ajarkan caranya mengucapkan kata "mantap" (diambil dari slogan acara mancing maniaa...mantap!!-geli deh tapi saya dulu suka bercanda begitu sama dia) sambil mengacungkan kedua ibu jari kami. Saya ajari bagaimana caranya supaya hanya jempol saja yang berdiri. Jadi saya buka tangan saya lebar lebar, kemudian saya lipat satu persatu mulai dari jari kelingking - jari manis - jari tengah - sampai jari telunjuk.

Ajaib. kurang dari 2 menit dia langsung paham.

Padahal sebelumnya dia kelihatan kesulitan untuk mengikuti gerakan tangan saya.
Percaya atau tidak, dia masih sedikit kesulitan untuk mengulanginya, jadi begitu percobaan selanjutnya dia berhasil, dia kekeuh tidak mau merubahnya. Kemudian kami keluar kamar dan menunjukkan pada semua orang yang ada di rumah sambil berteriak "mantaaaaap!!!!"

Dari situ saya jujur terkesima.
Ciptaan Allah SWT itu memang dahsyat ya.
Padahal melihat ukurannya yang masih kecil itu saya tidak menyangka they are actually the real fast learner. Semenjak itu acara bermain saya dengan si kakak pun juga bertambah seru. Jujur saya masih ingat betul bentuk ibu jarinya, oh imutnya.

Sampai saat ini, permainan favorit kami masih seputar bernyanyi dan berimajinasi.
Sekarang sih kakak sudah gede, sudah 3 tahun. Dan usia anak saya juga hampir setahun. Tapi saya selalu luangkan waktu untuk bicara dengan kakak karena kalau lagi gak kambuh rewelnya, anak ini masiiiih sangat lucu.

Saya juga ingat dulu waktu menyanyikan lagu "Aku punya anjing kecil, kuberi nama Heli, dia senang berlari-lari, sambil bernyanyi-nyanyi....Heli...." dan kakak akan menyambungnya dengan "puk!puk!puk!" dan suatu hari ketika kami bernyanyi lagu yang sama dia menyambungnya dengan "guk!guk!guk!" saya langsung terenyuh dan membatin "kakak sudah besar yaaa, sudah makin pintar membunyikan huruf konsonannya". Ada perasaan sedih sih, hehe karena kalau puk-puk-puk itu kedengarannya lebih imut. HAHA. #apasih

Alea panggil saya dengan sebutan onti.
Datangnya dari kata aunt.

Begitu saya punya anak dan saya selalu memanggil diri saya "Ibu" didepan anak saya, dia jadi sering panggil saya "Ibu". Ih, onti rasanya punya 2 anak deh nih. Kakak juga sekarang makin lucu, apalagi kalau nasihatin Mboi (panggilan akrab kakak ke Ibrahim-karena waktu hamil saya selalu bilang di perut ada baby Mboi).

Begini katanya, "Mas, Mas Mboi jangan nangis terus ya, nanti Ibu marah"
Pengen banget gigit si kakak!

Sama dengan anak anak seumurannya, Alea juga kadang mengalami "tantrum" untuk hal-hal yang gak jelas penyebabnya. Tapi yang jelas sih, tujuannya untuk mendapatkan perhatian Ibu nya. Kalau sudah kambuh tantrumnya, gemes juga. Tapi begitu kemballi lagi ceria, saya pasti langsung ceramahin dia di kamar supaya gak tantrum lagi. Sukses? Enggak lah. Saya kan cuma tantenya, bukan Ibu nya. #salim

Kenapa saya bisa dibilang "dekat" dengan Alea?
Karena mungkin dari awal kehadirannya di dunia, saya orang yang tergolong super duper mega excited. Saya banyak banget menyimpan foto dia dulu, buanyak buanget. Sampai sampai foto kakak juga saya jadikan wallpaper di hp saya. Saking senengnya punya bayi. #eh

Saya anak bungsu.
Saya dari dulu berharap banget punya adik bayi. Begitu ada kakak, rasanya kayak mimpi yang terwujud.

Saya juga belajar bagaimana supaya jadi onti yang terbaik buat dia.
Meskipun sampai saat ini banyak salahnya. Tapi saya selalu punya prinsip, "when it comes to a child, you have to be childish as-ish-as you can" yang artinya (karena pasti kacau banget bacaannya HAHA) begini "kalau sudah terkait dengan anak kecil, jadilah seperti anak kecil, sekecil-kecilnya anak kecil yang kamu bisa lakukan".



Rules #1
Yang penting buat mereka = harus juga penting buat kita.
Contoh sederhananya, dia punya boneka, namanya olaf. Dia care banget sama si olaf ini. Jadi begitu saya ajak dia makan, saya juga bilang "kakak, olaf juga diajak makan ya". Dia akan sangat senang kalau tahu selain dia, ada orang yang juga "memikirkan" olaf-nya. Yah, rada gila sedikit sih. Demi akrab sama ponakan.

Rules #2
Kalau dia nangis karena suatu hal, cari tahu, kalau alasannya gak masuk akal, anggap aja masuk akal.
Nah loh. Contohnya, dia pernah nangis karena dia mau pakai baju yang "sama" ( I mean, like...literally SAMA) dengan baju yang dipakai anak saya yang waktu itu usianya belum ada 1 bulan!Akhirnya, saya kasih satu set baju orok anak saya untuk dia pakai. Dia? Girang banget! Jangan tanya cukup apa gak, karena kalau kita bilang gak cukup tanpa mencobanya, dia hanya akan semakin nangis. Jadi ending-nya? Di pake aja gitu loh #eluspala (saya masih simpan fotonya, tapi gak untuk konsumsi umum karena udelnya kemana mana HAHA!)

Rules #3
Anak kecil menyukai keramah-tamahan dari orang dewasa. So bring out the hospitality in you.
Dari kecil saya selalu tersenyum sama dia, se-men-jengkel-kan apapun dia, saya selalu berusaha untuk memilih kata kata yang "pas" buat anak kecil. Saya gak pernah tuh yang namanya mengeluh, menghardik, menggeram (like errrrgh), atau terang-terangan mengatakan dia berisik meskipun ya dia sangat menguras kesabaran kita. Kenapa? Karena hey hey, mereka hanya anak kecil. Jadi kita yang dewasa yang ngalah. Kalau dia memang sedang ngeselin, saya biasanya bilang "Azalea!No!". Ini sih dia hapal betul datangnya dari mana. Pasti dari saya. Kalau sudah begitu, dia paham saya gak suka dengan tingkahnya. Meskipun kalau sudah begini dia seringnya menjauhi saya dan lari ke ibu-nya. Tapi setidaknya, saya tidak menyakiti perasaan dia. Kalau dia kesal karena dilarang, ya karena memang harus dilarang.

Rules #4
Berimajinasilah bersamanya. Jangan tanyakan mengapa dia begini dan mengapa dia begitu.
Ini sih udah jadi makanan sehari hari kami. Waktu idul adha tahun lalu, banyak sapi dan kambing di pinggir jalan. Kalau lewat sapi atau kambing, saya akan langsung tanya ke dia "Kakak!Sapi gimana bunyinya???" dan dia akan langsung teriak "moooooo...." terus kita berdua akan ber-moooo dan ber-mbeeeeekk ria sepanjang jalan. Kalau kami lihat burung, saya akan mengaitkan kedua ibu jari saya dan mengepak-ngepakkan jari yang lainnya sambil bilang "buruuuung...buruuuung...terbang terbaaaang!!" She's gonna love it! Oia, animal topic ini yang rata-rata paling sukses menghibur dia.

Rules #5
Jangan kaku. Lemesin aja. Dance with the kids.
Semakin sering kita joget bareng mereka, semakin suka mereka sama kita. Apalagi kalau punya energi lebih. Pasti digandrungi bocah-bocah. Waktu saya hamil, saya sampe lemes harus nemenin kakak joget. Tapi, saya senang. Asal dia senang. Kalau dirumah, biasanya kita lempar jumroh #HAHA karena begitu saya capek, saya langsung kasih ke uti-nya. Selanjutnya kakung-nya. Sampai semua orang dirumah kebagian jatah :D


Rules lainnya masih banyak lagi, tapi saya biasanya pakai yang paling prinsip dulu (seperti diatas). Ada semacam "energi" yang mereka salurkan ke kalian, begitu kalian enjoy bermain sama mereka. Kalian akan lupa kalau, life is (still) hard after all.

Dari dulu saya juga ikut "mempelajari" kakak. Dan begitu punya anak, "mempelajari" anak sendiri ternyata bagian yang paling saya sukai. Kemudian pertanyaannya, apa sih maksudnya "mempelajari"?

Mempelajari yang dimaksud ada ketika kamu mengamati mukanya. Bentuk matanya, warna kulitnya, besar bola matanya, panjang bulu matanya, lubang hidungnya, bentuk bibirnya, gigi-gigi susunya, dengkik-nya (lesung pipit), senyumannya, dan lainnya. Semakin kamu tahu kekurangan dan kelebihannya, semakin kamu suka banget sama anaknya. Saya juga jadi menerka-nerka, darimana dia dapatkan semua bentuk-bentuk itu. Kali-kali saya menyumbang sebagian begitu, hehe :D

Namun, masalah fisik sangat saya hindari untuk dibicarakan dengan dia. Paling hanya seputar dia punya senyuman yang manis atau dia sangat cantik kalau tertawa. Kenapa? Karena bukan tentang itu kan kita mau mereka tumbuh besar nanti? Cuma soal fisik saja. Lantas jadi tidak perlu berilmu? Makanya saya sangat hat-hati. Salah-salah nanti dia hanya melulu memikirkan aurat. Padahal, orang dewasa yang parasnya bagus, hidungnya mancung, kulitnya putih pun biasanya belum tentu sukses akhiratnya.


Jelas, Alea punya tempat di hati saya.
Aleanya onti, kalau saya menyebutnya begitu.
Semoga, nanti jadi kakak yang terbaik untuk adiknya, dan saudara-saudaranya.

I love you, you love me, we are happy family, 
with a great big hug and a kiss from me to you...
won't you say you love me too.....


Bintaro Playparq, 17 September 2016



0 comments:

Post a Comment

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see