Cerita Tentang Dokter Aris Wahju

Cerita awal tentang sang dokter ini udah pernah dibahas di postingan sebelumnya.
Semasa hamil, gw dan suami sepakat untuk tetap meneruskan kontrol dengan sang dokter karena beberapa hal. Salah satunya, kecocokan.

Sepele. Tapi penting.

Kenapa cocok? Karena dokter Aris orangnya santai. Gak pernah nakut-nakutin dan ngasih larangan macem macem. Yang paling penting, dokter Aris selalu punya jawaban untuk setiap kekhawatiran kekhawatiran gw. 

Pengalaman pernah keguguran dan saran orang dari kanan kiri yang bilang baiknya test TORCH untuk memastikan keguguran kemarin bukan karena virus TORCH, ditanggapi santai dengan Dokter Aris. Tau dong, biaya test TORCH gak murah? Waktu gw dan suami udah mempersiapkan diri kalau memang test ini dibutuhkan, Dokter Aris cuma bilang "Gak usah lah Bu, kondisi Ibu sampai saat ini baik koq. Test ini gak terlalu diperlukan." Duh enak banget. 

Terus, karena suami bawel ngelarang ini itu, pas tanya Dokter Aris jawabannya juga ngenakin. Ngenakin di hati ngenakin di perut :))

Boleh makan steak gak Dok?
Boleh Bu, silahkan. Yang penting well done ya.
Boleh makan sate kambing gak?
Boleh koq, usahakan yang paling matang ya Bu.

Langsung cus tuh ke Holycow! Haha.
Oia waktu usia kandungan udah 7 bulanan, gw juga sempat mempertanyakan apakah bisa lahiran normal. Dokter bilang bisa selama kondisinya memungkinkan. Tapi dokter juga menekankan kalau tindakan sesar diperlukan dan tidak perlu ditakutkan jika memang kondisinya menuntut untuk seperti itu. Dokter bilang, seumpama posisi bayi sungsang sampai hari H nanti, percayalah bayi itu juga manusia yang punya naluri dan idealnya akan bertahan pada posisi yang membuatnya nyaman. Dulu ukuran keberhasilan persalinan adalah mengusahakan persalinan normal. Tapi sekarang, yang menjadi prioritas adalah kualitas dari bayi itu sendiri.

Jadi inget cerita tentang anak pertama dari tukang urut gw, anaknya dalam keadaan sungsang. Lahiran di bidan, dipaksa normal. Akhirnya yang keluar pertama kaki kanan, kaki kiri masih di dalem. Terus dipaksa sampai keluar. Akhirnya iya bisa keluar, setelah 10 menit nangis teriak teriak, teriakannya mulai melemah dan akhirnya tutup usia. Patah hati banget dengernya. Kemungkinan karena bayinya stress akibat proses persalinan yang terlalu lama.

Nah itu yang dimaksud Dokter Aris. Sekarang ukuran keberhasilan persalinan adalah jika sang bayi lahir dalam keadaan normal meskipun harus dibantu lewat persalinan sesar. Begitu.

Pokoknya Dokter Aris punya waktu untuk berbagi ilmu dan cerita sama gw dan suami. Itulah kenapa kami putuskan untuk stick with him. Thank you Dok!!!




1 comments:

  1. Begitu toh.. Ini dokter yg di hebohkan di fb itu kan ya? Salut sama dokter2 yg seperti itu.. Kmrn juga pas istri gw hamil, ga banyak pantangannya. Yg penting bersih dan mateng. Kadang kanan kiri berbisik, ga boleh anu, itu, nanti begitu, begini. Mitos dll.. Hehehe... Udah ah, gt aja...

    ReplyDelete

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see