Sedikit Tentang Karir

Kutu Lompat?
Gw punya beberapa kali pengalaman test dan interview kerja di beberapa perusahaan dari semenjak lulus kuliah sampe akhirnya kerja - resign - kerja lagi - resign lagi - dan kerja lagi. Kalo diliat resume gw emang mengharu biru banget. Nyesel? Gak. Buat gw, loyalitas itu harus setimpal dengan rasa haus lo akan pengembangan diri dengan self actualization itu sendiri. When there's nothing to consume, then you have to dig another hole to feed your hunger. Selain itu, gw punya prinsip dan aturan agama yang selalu gw jadikan landasan dalam setiap pekerjaan gw. Jadi kalau ada yang bilang "ya minimal lu harus 2 tahun lah disini, kalo cuma sebentar sebentar doang nantinya bakal nyusahin lu", tanggepin aja gini "thanks sob atas nasehatnya, cabut dulu ya". Peace! Kenapa gue suggest lo jawab begitu, karena tipikal orang kayak gitu gak akan ngerti sama kalimat kedua ketiga keempat dan seterusnya yang akan keluar dari mulut lu. Dan lu gak harus banget mati-matian buat mereka ngerti. It's not your job, it's theirs eventually. Tapi, there's always but, lu amat sangat harus memiliki kesadaran yang tinggi akan pilihan lu baru lu bisa jawab gitu ke tuh orang. Maksud gw, lu memilih untuk resign bukan semata mata karena ke-congkak-an lu kalau karir lu akan lebih cemerlang setelah lu cabut dari kantor lu sekarang. Semua butuh kerja keras bung. Kayak gw. Akibat kerjaan gw yang sebentar sebentar ini (paling lama satu setengah tahun - paling cepet 6 bulan), gw yakin banyak banget HRD yang udah ngebuang resume gw tanpa mau tau cerita dibalik resume gw. Sedih? Iyak. However, nothing left but FAITH.


Suka Duka.
Poin sebelumnya gw akhiri dengan kata "FAITH". Yep, disamping doa yang selalu dipanjatkan, usaha yang terus dilakukan, pada akhirnya lu harus punya keyakinan. Keyakinan kalau suatu saat nanti akan ada perusahaan yang berjodoh sama lu, alias jodoh yang Tuhan simpan untuk lu sampai tiba saatnya nanti. Meskipun ternyata pekerjaan itu is just another stepping stone. Percayalah, lu harus ada disitu for something. Dan se-sepele apapun pekerjaan yang lu lakukan, selalu ada skill yang dilatih, selalu ada capability yang diasah dalam diri lu. Even itu cuma kemampuan administratif lu. Seorang temen gw pernah bilang, gak akan ada pekerjaan yang besar tanpa pekerjaan yang kecil. Jadi, hargai apapun pekerjaan lu. Itu yang paling penting.

Kalo ditotal, gw kerja udah di 6 perusahaan, 6 industri yang berbeda dan 6 posisi yang berbeda dalam kurun waktu 4 tahun! Rasanya? Damn great! Ibarat pubertas, mungkin gw tipikal manusia yang mengalami pubertas kelewat telat. Itu bukan labil. Didalamnya ada usaha, kerja keras, jatuh bangun, keraguan, keyakinan, kesedihan, kesenangan, harapan, cita cita, kekecewaan dan sebagainya dan sebagainya. You can judge me. That's okay. Gw terima ini karena ini udah jadi jalan hidup gw. Gw orang yang cukup saklek. Once gw gak enjoy dan gw mantep, gw pasti beranikan cabut. Tapi ini sama sekali bukan untuk ditiru. Buat kalian yang mendambakan karir yang menetap, bercita cita membangun keluarga baru lewat lingkungan kerja, perjalanan karir yang stabil, pastilah kalian akan menghakimi jalan gw. Kebetulan, gw juga ingin menetap untuk beberapa lama di sebuah perusahaan, tapi selalu aja, selalu aja akhirnya gak enak. Haha. Sit with me, listen to my stories, I'll make you understand.

Sejujurnya, gw cuma orang yang melihat kemana peluang membawa gw. Waktu dulu jadi fresh grad, rasanya dapet pekerjaan yang in line sama jurusan gw itu susahnya minta ampun. Nah buat kalian yang begitu lulus langsung dapat karir yang bagus, congratulations! Life loves you! Buat yang enggak, hey, be adventurous! So, instead of calling myself "kutu lompat" I'd rather put that label on. Gak apa apa banget jadi petualang karir, asal inget umur, inget kewajiban, inget tanggungan. Ya kalau laki ya jangan kelamaan lah, lekas berlabuh karena akan ada babe babe yang bilang "Kamu sudah punya apa untuk ngehidupin anak saya?" Kalau jawabannya cuma "punya niat dan tekad yang keras, om" ya paling disuruh balik lagi tahun depan buat coba lagi. Beda emang sih sama cewe, agak lebih ada enaknya gitu. Meskipun gak juga, nganggur ya nganggur aja kalo emang gak qualified.

Prinsip dan Agama.
Cuma dua hal ini yang paling ampuh untuk gw jadikan alasan kenapa gw harus cabut. Contoh, gw pernah meninggalkan perusahaan tempat gw bekerja di bidang FMCG ke industri hospitality dengan alasan kalau gw lebih lama lagi di kantor itu gw hanya akan dikenal sebagai the master of purchasing (though, kala itu gw adalah purchasing khusus untuk kebutuhan marcomm dan promosi). Akhirnya gw pindah ke hospitality industry as Public Relations which relates to my educational background.

Contoh lainnya soal alasan atas nama agama adalah ketika gw cabut dari hospitality industry itu tadi. Muehehehehe. Why? Karena dosa gw udah buanyak buanget. Dan gw sadar betul gw kerja dimana. Sebagai PR, gw pastinya ikut mempublikasikan wine, beer, dan semua yang dijual disana. Mulai dari bikin ide promo, supervising design, sampe finally ngeblast itu semua. Gak sekali dua kali tawaran wine testing ditawarkan gw, alhamdulilahnya, masih bisa nolak. Bukan sok suci, tapi selama setahun lebih dikit disitu, believe it or not, gw gak punya tabungan. Padahal, gaji gw naek hampir 100 persen disitu dari sebelumnya. Bahkan, di perusahaan sebelumnya gw bisa nabung sampe puluhan juta dengan gaji, mmmhh sorry, beda tipis sama UMR. Disitu adalah titik dimana gw sadar kerjaan gw gak berkah untuk gw.

Pasti kalian berfikir, "itu mah elu aja kurang perhitungan kalau mo pindah ke perusahaan baru". Mmmhh, terserah. Bebas sih. Tapi kalo gw boleh ngomong, gw ngerasa waktu memutuskan pindah, serius, gw innocent banget. Minim pengetahuan, minim gambaran, kayak ikan aja gitu, disuruh renang ya renang. Ya masa iya jalan. Kebetulan juga, gw lagi skripsi, bagus banget aja moment nya. gw bisa fokus skripsi-an. Setelah itu gw justru 2 kali ditawarin balik lagi, dan sama mantan bos diajak gabung ke hotel lainnya. That's when I learn about commitment. Meskipun hampir putus asa tapi gw tetep gak mau. Do not forget why you stop. Never look back. Apalagi going backward.

Resign?
Nah, gw amat sangat kagum dengan siapapun yang punya prinsip "kalau menemukan kesulitan dengan pekerjaan, hadapi, atasi, jangan lari". Sepakat banget. Tapi, akui, pasti berat, kalau itu bukan passion kalian, bukan bidang kalian, bukan yang kalian cari apalagi inginkan. Jadi gunakan prinsip itu hanya ketika lu tau you are on the right track! Jadi yang namanya prinsip juga sifatnya harus fleksibel. Beda kalau prinsip soal integritas dan sebagainya, itu mutlak harus. Jadi balik lagi, jangan asal terima kerja dan jangan asal resign.

Memang, jobdesc yang mereka kerucutkan jadi beberapa point di situs situs lowongan kerja itu gak akan pernah sama dengan ekspektasi lu, tapi at least itu memberikan gambaran lu seperti apa garis besar pekerjaan itu di lapangan. Oia, sebelum resign atau menerima hijack-an perusahaan baru, pastikan kalian membuat list plus and minus nya. Setelahnya, pakai logika manusia aja, mau ambil yang banyak positifnya atau negatifnya. Usahakan se-objektif dan se-detail mungkin. Contoh ya, di perusahaan A (current company) lu terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-harinya, sementara di perusahaan B (prospect company) karena multinational company lu akan membiasakan diri dengan bahasa asing (ini jika kondisinya bahasa asing itu udah gak terlatih di kalian, kalau kalian emang lahir di California dan tinggal 20 tahun disana, lupain aja soal ini, udah paling bagus kalian emang belajar bahasa tanah air kita).

Menetap.
Nah, setelah kalian dapat pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bidang kalian, apalagi in line juga sama latar belakang pendidikan kalian, it's time to settle!!! Mulai rencanakan tentang jenjang karir lanjut ke kapan mo nikah kapan mau punya anak kapan mau naek haji kapan mau keliling Eropaaah!!!

Setelah membaca tulisan ecek ecek ini, ada yang lebih menarik untuk dicoba, pernah dengar tentang

enterpreneur?




2 comments:

  1. Tulisannya sangat bagus dan menarik ........... Emang kalo kerjaan gak dari hati, kalo nemuin halangan dikit, pengennya mundur aja

    ReplyDelete
  2. sama gw juga gitu gan , satu prinsip kita :D

    ReplyDelete

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see