Melewati Ujian

Beberapa hari belakangan ini jadi hari yang berat buat gw.
Mungkin justru jadi masa masa yang terberat dalam hidup gw. 
Beberapa orang menemukan dirinya berubah ketika mereka mengalami satu titik balik dalam hidup mereka. Ada kalanya titik balik itu hal hal yang mungkin sepele atau biasa bagi sebagian orang. Namun tidak bagi mereka yang mengalaminya dan berhasil menjadi pribadi yang lebih memiliki nilai hidup. 

Tahun 2013 lalu mungkin jadi awal segala-galanya dalam hidup gw. Ketika pertengahan tahun lalu, pacar melamar dan meminta gw menjadi teman hidupnya. Rasanya bukan seperti hari pertama sekolah atau interview kerja. Rasanya jauh lebih dahsyat dari itu. Menikah bukan keputusan dalam semalam atau dua malam. Tapi, menikah dengan seorang Teo menjadi begitu mudah. Menikah bisa jadi titik balik pertama dalam kehidupan seorang perempuan. Idealnya ya. Sebagian yang saya kenal, masih terlihat kekanak-kanakan dan kurang bijak ketika sudah menikah.

Menikah bagi gw bukan sesuatu yang sepele. Dan seiring waktu berlalu, selama proses persiapan menikah, hingga menghadapi hari besar itu, bulan madu, dan kembali lagi ke rumah sebagai pasangan yang halal sudah merubah banyak hal dalam hidup gw. Gw udah mengalami yang namanya sebuah pernikahan. Dan sekarang, ada sisi seorang "istri" dalam diri seorang gw. Menjadi istri itu butuh komitmen, bung. Bukan sekedar pakai cincin di jari manis kanan lantas kalian masih bisa ber-haha hihi dengan teman sejawat tanpa kenal waktu. I mean, you don't have to change, but, let it changes you.

Menjadi istri berarti selalu mendahulukan suami. Mengurus kebutuhan suami, meminta ijin kepada suami kalau mau keluar rumah atau bertemu dengan siapapun, menjaga hubungan dengan teman lelaki, dan sebagainya dan sebagainya. Terdengar kuno? Gw sih enggak. Buat gw, itu terdengar bijak. Karena memang begitulah seharusnya. Dari pertama kenal Teo dari jaman SMA dulu, gw sadar akan beberapa hal. I don't need to find a bestfriend if I could make him my bestfriend. Gw gak handal dalam menjalin hubungan dengan beberapa kelompok. Seperti keluarga, sahabat dan pacar. Gw gak pernah jago dalam membagi waktu supaya semuanya balanced. Maka dari itu, sampai detik ini gw ngerasa gak punya sahabat. Miris? I don't think so. Miris itu, kalo lu gak punya pacar dan gak punya sahabat terus lu gak deket sama orang tua.

Pacar gw, sahabat gw. Sahabat gw, sekarang jadi suami gw.
Gw selalu kagum ketika mendengar seorang teman yang bilang "maaf, kayaknya gw gak bisa join holiday nanti, kasian suami dirumah gak ada yang urus". Tapi bukan yang, "holiday nya gak bisa dirubah aja waktunya? biar suami gw bisa ikut, kalo tanggal segitu dia lagi sibuk-sibuknya". Itu namanya egois, udah memaksakan diri buat ikut, menjadikan suami sebagai kambing hitam, dan parahnya mengacuhkan kepentingan para sahabat. Kasian dong suami, karena bisa jadi suami juga sebenernya gak maksa kalo memang gak cocok waktunya. Dan lagi, kasian dong para sahabat itu yang udah menyepakati tanggal yang memungkinkan mereka untuk pergi bareng-bareng. Itu yang gw maksud dengan "let it changes you".

2,5 bulan setelah hari pernikahan gw positif hamil.
Gw rasa ini titik balik kedua dalam hidup gw. Ketika gw positif hamil, itu semua mengubah gw. Dari seorang istri, menjadi calon ibu. Bukan lagi hanya suami yang gw dahulukan. Tapi si jabang bayi. Segala sesuatunya yang berhubungan dengan teman dekat, bergeser lagi menjadi yang kesekian. Menjadi calon ibu berarti menjadi semakin dewasa lagi. Mulai menjaga sikap dan bicara, mulai menahan emosi, dan sebagainya dan sebagainya. Menjadi istri dan menjadi calon ibu benar benar merubah sudut pandang gw.

3 minggu kemudian gw keguguran.
Ini titik balik ketiga gw. Peristiwa itu masih begitu nyata di ingatan gw. Begitu nyata dan begitu menyedihkan. Sekarang, setelah melewati minggu minggu yang berat pasca keguguran, gw alhamdulilah sudah dalam keadaan yang jauh lebih baik dan jauh lebih menerima. Awalnya jangankan berfikir jernih. Mikir apapun rasanya udah gak ada ruang di kepala gw. Menghindari berbicara dan bertemu dengan banyak orang gw putuskan karena gw tau banget gw ini orang yang seperti apa. Saat itu kerjaan gw cuma nangis. Begitu besar aura negatif yang gw keluarkan. Begitu berharganya mereka mereka semua untuk dekat dekat sama gw dikala gw benar benar hanya mampu mengeluarkan aura negatif dan memancarkannya ke mereka. Apalagi beberapa teman dekat ada yang belum hamil, beberapa ada yang mau menikah (dan sepertinya gak mau menunda momongan), beberapa ada yang merencanakan pernikahannya. Ini tahun yang manis untuk mereka dan saat saat yang berat untuk gw. Apalah gw ini merusak mimpi mimpi manis yang sedang mereka bangun. Seperti gw dulu selalu memimpikan kemulusan kemulusan dalam kehidupan rumah tangga gw nantinya ketika mempersiapkan pernikahan. Rasanya gak benar aja gitu. Karena mereka hanya akan menjadi semakin bertanya tanya dan semakin takut.

Melewati ujian. Menjadi manusia yang lebih bernilai. Menambah ketakwaan.
Jangan berfikir seberat itu setelah membaca kalimat diatas. Tapi memang butuh waktu berminggu minggu untuk akhirnya bisa berfikir sehat lagi. Sekarang gw sadar bahwa ini adalah ujian. Ujian yang paling besar dari ujian ujian sebelumnya. Makanya rasanya "koq gak biasa" begitu. Hard to handle ibaratnya. (masih) bersyukur punya iman yang mungkin gak seberapa dibanding teman-teman sekalian, tapi memang seberat apapun ujian, baliknya selalu ke keyakinan lagi. Semakin berat, justru harusnya semakin yakin. Beruntung kita semua yang di KTP nya punya agama. Yang tiap harinya melakukan ibadah wajib (apalagi yang sunnah). Kalian punya Allah. Yang Maha Berkehendak. Yang Maha Tahu yang terbaik. Yang Maha Penyayang. Yang Maha Pengampun. Coba kalo enggak, seperti sebagian besar rakyat korea. Pasti otak rasanya buntu.

Proses melewati ujian ini dimulai dari pada akhirnya kembali memberanikan diri untuk membuka laptop. Mengetik di mesin pencari google tentang keguguran. Dan pada akhirnya mencari tahu bagaimana Islam melihat keguguran sebagai ujian untuk umatNya. Membaca pengalaman orang. Membaca literatur. Membaca buku buku tentang Islam. Mencoba mencari hikmah dibalik musibah ini. Hingga sampai kepada ini :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “kami telah beriman,” sedang mereka tidak di uji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar 
dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-Ankabut : 2-3)

Ujian bagi Mukmin sangat mungkin berbeda, tetapi setiap ujian memiliki maksud yang sama yaitu:
menguji keimanannya, hingga tatkala mereka lulus ujian itu semakin tinggi-lah derajatnya, dihapuskan-lah dosanya, dan dianugerahkan keutamaan kepadanya. Ujian juga membawa Hikmah besar setara dengan tingkat ujiannya. Diantara ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'aala kepada sebagian keluarga adalah keguguran.


Ujian ini secara khusus sangat berat bagi seorang wanita, calon ibu. Apalagi jika itu adalah calon putra pertama. Ia juga berat bagi suami dan keluarganya. Namun, sesuai dengan kaidah di atas, bahwa semakin berat ujian semakin besar pahala dan hikmahnya. Dan semakin tinggi iman seseorang atau sebuah keluarga semakin berat pula ujiannya.

“Demi Allah,” Rosulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa Ibunya ke Syurga dengan tali pusarnya,
 jika Ibunya itu Ikhlas.” (Hadist Riwayat: Ibnu Majah)


Hadits lain dari Ali bin Abi Thalib bahkan menyatakan bukan hanya ibu yang “terselamatkan” berkat keguguran yang dihadapi dengan penuh ke ikhlasan, melainkan juga sang ayah. 

“Sesungguhnya janin yang keguguran akan memohon dengan sangat kepada Rabbnya, jika kedua orang tuanya masuk neraka. Sehingga dikatakan kepadanya, ‘Wahai janin yang memohon kepada Tuhannya, masukkan-lah kedua orang tua-mu ke dalam syurga. Kemudian janin itu pun menarik mereka dengan tali pusarnya menuju syurga.”

sumber disini

Masya Allah.
Udah gak bisa berkata kata lagi pokoknya. Mungkin dari beberapa mood booster selama proses melewati ujian ini, keyakinan soal agama dan kehendakNya itu yang paling paling dahsyat efeknya. Semoga ini bisa jadi sharing yang bermanfaat bagi para calon ibu diluar sana yang mengalami hal yang sama seperti gw. Sesungguhnya semuanya sudah diatur. Dan sebaik baiknya rencana kita, yang terbaik hanya rencana Nya.

Salam,
C


1 comments:

  1. Halo Mba Cio,
    salam kenal..gak sengaja googling dan nice sekali membaca blog mba ..
    beberapa minggu lalu ak juga mengalami keguguran dan harus dikuret. Peristiwa tsb gak cuma bikin sakit fisik tapi psikis. belum lg dg tanggapan orang-orang yang krg mengenakan. selamat ya mba cio udah isi lagi, ikut haru dan bahagia. ada tips kah mba untuk melalui fase stlh keguguran dan menuju program hamil. terima kasih :)

    ReplyDelete

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see