Belajar Memaknai Hidup

Judul diatas adalah suasana hati saya malam ini.

Sembari menunggu suami yang sudah semingguan ini dan beberapa minggu kedepan akan pulang larut malam, perkenalkan, saya ibu rumah tangga. Mungkin lebih tepatnya disebut istri rumah tangga. Kenapa? Karena saya belum punya anak. Begitulah. Pernikahan kami memang baru seumur jagung. Baru berumur 2 bulan 24 hari, namun rasanya jika bisa dianugerahi anak buat kami itu mimpi yang jadi kenyataan. Sebelumnya maafkan jika tulisan saya sedikit agak acak, kurang terstruktur atau kurang enak untuk dipahami. Gaya menulis saya, kurang lebih sama dengan gaya bicara saya. Acak.

Saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya sebelumnya di sebuah perusahaan mnc (multinational company) asal Amerika. Perusahaan IT yang berlokasi di sentral senayan hanya beberapa blok di seberang kantor suami saya. Hanya 7 bulan lebih dikit saya bertahan disana. Namun bukan keputusan yang sulit untuk keluar. Karena hati saya sudah menjerit sejak lama. Karena tugas dan pekerjaan yang tidak memberikan saya keleluasaan untuk menggali potensi dalam diri saya. Karenanya produktivitas saya sangat mengecewakan. Setidaknya bagi saya sendiri itu sangat menyedihkan. Selain jeritan suara hati, dukungan suami pula lah yang memantapkan langkah saya hingga sampai saat ini. Di kamar. Menulis blog. Mencoba menjadi sedikit lebih berarti dengan berbagi. 

Saya sendiri belum genap 1 bulan menganggur. Tapi rasanya sudah bosan sekali. Sangat bosan. Terlebih dirumah saya fasilitas tidak begitu lengkap. TV hanya 2, itupun yang satu sudah mati sejak lama. Sementara TV yang 1 itu sudah hak paten milik orang tua saya. Acara yang dipilih ada program acara lokal yang sifatnya hanya menghibur. Itupun menghibur para lansia. Lantas saya? Saya hanya mencuri curi waktu ketika ayah bekerja dan mami pergi. Atau ketika keduanya tertidur. Pilihan saya apalagi kalau bukan menonton drama korea. Pekerjaan yang mengasyikkan. Ternyata tidak sampai disini Allah menguji kebosanan saya. Kemarin, hp android saya mati. Alias tidak mau menyala lagi. Sedari pagi saya hanya bermain main dengan bb saya yang juga tidak ada pulsanya. Atau sesekali membuka laptop memantau pendaftaran online CPNS tahun ini. Selebihnya melamun dan berputar putar di dalam rumah. 

Sebenarnya saya memiliki pikiran-pikiran di dalam otak saya yang saya tuang kedalam kolom search di mesin pencari, Google. Misalnya "belajar tentang beasiswa ke luar negeri" atau "cara hemat travelling ke Eropa" atau "tanda tanda awal kehamilan". Selebihnya ya saya tetap buka situs situ pencari kerja. Ya rata-rata apa yang kita ketikkan di mesin pencari itu adalah isi kepala kita saat ini. Sama dengan saya, cita cita dan mimpi saya bisa melanjutkan sekolah S2 keluar negeri tidak pernah padam. Tapi miris, lilinnya pun belum juga dinyalakan. Lantas apa yang bisa dipadamkan. Ah, rasanya ingin membenamkan diri sedalam dalam nya ke perut bumi. Iya, rasa kurang percaya diri dan kurang usaha adalah mental yang harus saya rubah. Dan saat ini saya sedang tidak mood untuk mengubahnya (dari dulu pun). Lalu bagaimana dengan liburan ke Eropa? Rasanya ingin punya keberanian mengatakan ke suami "tabungan kita, bagaimana kalau digunakan untuk jalan jalan ke Eropa? Saya ingin melihat Eropa". Tapi saya sudah tahu jawabannya, "sabar ya sayang, suatu hari kita pasti kesana, tapi tidak saat ini. Tidak dengan tabungan saat ini". Oh, no. Tapi saya tidak pernah meremehkan setiap perkataan suami saya. Jika dia berkata begitu, maka saya akan mempercayainya dan bersabar dan mendoakan Allah membukakan seluruh pintu rezekinya kepada kami. 

Baiklah, yang paling mendominasi pikiran saya saat ini adalah kata kunci yang ketiga. Kalau kata orang-orang, kami sedang H2C. Harap Harap Cemas. Ya begitulah. Sebenarnya saya tidak ingin membicarakan ini di blog karena kami masih dalam tahap H2C itu tadi. Tapi bagaimana ya, saya benar benar tidak tahu harus bicara dengan siapa sambil menunggu suami saya pulang kerja. Jadi, maafkan hamba ya Allah. Sama sekali tidak mencoba untuk mendahului kehendak Mu. Berkaitan dengan hal ini, banyak yang juga saya rencanakan, salah satunya ganti gaya rambut. Saya sudah teramat sangat bosan dan malas mengurus kerontokan rambut saya dan memutar kepala harus diapakan rambut ini ketika kondangan yang ujungnya hanya berakhir dengan digerai saja. Saya ingin sekali potong pendek. Namun, saya ingin bertahap, alias ingin mencoba gaya rambut yang nanggung dahulu. Pemikiran saya bahkan jika memang benar diberikan rezeki punya anak dalam waktu dekat, saya ingin segera memotong rambut saya. Tidak cuma itu, saya juga bahkan berniat mewarnai rambut saya. Hanya untuk berganti suasana saja. 

Lalu pertanyaannya,
pernahkan kalian diberikan kelu kelu pada setiap kejadian yang anda sedang alami dalam hidup?

Tempo lalu saya sedang menonton acara IMS, Indonesia Morning Show di NET TV. Stasiun TV terbaru favorit saya. Dan tiba tiba saja mereka sedang membahas gaya rambut dan resiko pewarnaan rambut. Lalu mendadak saya terdiam. Begitu banyak topik di dunia ini yang bisa dibahas, kenapa harus gaya rambut dan cat rambut? Lalu saya merasa seperti mendapatkan jawaban dari para pakar rambut tanpa harus membayar biaya konsultasi di salon salon mahal itu. Selanjutnya, lebih membelalakkan mata saya. Bahasan mengenai bahaya zat kimia dalam pewarna rambut pada ibu hamil atau perkembangan janin. WOW. Dua hal yang melekat pada kepala saya. Baiklah. Anggap saja sekali lagi ini hanya sebuah kebetulan. Namun berkat itu, saya kini yakin hanya untuk memotong rambut saja tanpa perlu mewarnainya. Lain hal nya jika, ternyata saya tidak mengandung :)

Ternyata kebetulan kebetulan alias kelu kelu itu tidak berhenti disitu saja. Sebelum saya akhirnya memutuskan untuk menulis di blog ini, saya mencari cari kesibukan. Daripada hanya sekedar buka buka kulkas, tengok tengok makanan di dapur, buka buka toples makanan ringan, saya ingat pernah beli buku ULTIMATE U karya Rene Suhardono yang belum saya rampungkan. Saya membuka laci dan langsung mengambil posisi paling nyaman untuk membaca. Segera saya mencari pembatas buku, oh ternyata saya sampai pada bab ke 26 dengan judul "Little Love & Big Love". Dan kalimat pertama sungguh, sungguh membuat saya mengernyitkan dahi saya.

Siapa bilang jadi ibu pekerjaan yang mudah?

Mungkin kalian bertanya kenapa dahi saya harus berkernyit? Dan saya akan balik bertanya, mengapa harus soal menjadi ibu? Kenapa harus lagi lagi soal menjadi ibu yang mana aturan mundurnya adalah seorang istri atau wanita baru bisa dikatan menjadi ibu jika ia sudah melahirkan dan membesarkan anak yang mana diawali dengan hamil duluan bukan? Dan saya kini sedang H2C. Oh sungguh saya makin yakin bahwa segala sesuatunya yang terjadi pada diri kita itu ada alasannya. Dan semoga alasan itu baik.

Semakin larut dengan ritme buku ini yang dari bab ke bab hanya memakan waktu beberapa menit dan tidak perlu kesulitan dalam mencerna (khas Rene), saya melaju ke bab selanjutnya. Bab ke 27 dengan judul "To Hire & To be Hired". Seketika saya langsung berkata, oh tidak, tidak mungkin. Kali ini soal pekerjaan? Mencari pekerjaan? Pengangguran? Atau apa? Sangat sesuai dengan kondisi saya saat ini yang juga putus asa dalam mencari pekerjaan baru. Di samping belum mendapat panggilan dari perusahaan idaman, beberapa perusahaan idaman pun tak sedang membuka lowongan. Lengkap sudah. Ya, memang rekan rekan kerja di tempat sebelumnya memicingkan mata seraya mengatakan "lu mau jadi ibu rumah tangga doang?" dan saya selalu membalasnya dengan tersenyum. Karena saya pikir tidak ada gunanya berdiskusi mengenai pilihan saya, toh mereka rata rata masih single. Dan yang juga sudah menikah pun pasti punya banyak cicilan sehingga ikut-ikutan memicingkan mata. Saya sih lebih pilih hidup dalam masa sekarang alias sebelum saya punya banyak cicilan saya  masih punya alasan untuk mengundurkan diri dan menganggur dulu. Lanjut ke buku yang sedang saya baca, saya membaca pelan pelan setiap kata yang Rene tuliskan sampai pada tulisan ini :

Bisa memperkerjakan orang yang tepat atau mempekerjakan organisasi yang tepat adalah langkah awal yang baik. Kalaupun belum berjodoh, kenapa harus gundah? Even when you don't get hired you are still you. Tetap jadi diri sendiri sambil berusaha menjadi diri sendiri yang terbaik. Non ducor, duco. (I am not led, I lead)

Rasanya seperti memiliki Rene di ruangan ini dan mendengarkan dia meng-coaching saya. Leganya. Saya semakin percaya dengan tidak ada coincidence di dalam hidup ini. Apa yang kalian sebut dengan kebetulan? Kebetulan papasan? Kebetulan tepat waktu? Kebetulan hujan? Kebetulan promo? Ah saya tidak pernah mempercayainya. Selalu ada usaha Anda ataupun usaha orang lain ataupun rencana Anda ataupun rencana orang lain dalam kebetulan itu. Jika tidak, maka pasti ada rencana Tuhan dibaliknya. Ketenangan akan jawaban Tuhan dalam doa doa kita dikirimkan Nya dengan berbagai cara. Maka jangan pernah menutup pintu jawabannya. Bahkan ketika Anda harus mau membaca sebuah kata di pinggir jalan atau melihat ke sekeliling kalian. Dan jangan terlalu disibukkan dengan gadget Anda di setiap waktu dan di setiap tempat. 

Sudah dulu ya sharing nya, suami saya sudah di depan gerbang. Saatnya menjelma menjadi istri rumah tangga kembali. Semoga bermanfaat.



0 comments:

Post a Comment

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see