Menohok yang Membangun

Diah.
Ibu Diah sapaannya.
Kecil, muda, dan berbehel.
Kalau di UI, aku bisa saja menyebutnya Mba Diah.
Namun karena di Mercu Buana standard sapaan dosen atau asisten dosen adalah Ibu dan Bapak.
Jadi mari memanggilnya Ibu Diah.

Riset Humas.
Itu nama mata kuliahnya, namun sebenarnya isinya adalah konsultasi mengenai bab 1 sampai bab 3 skripsi.
Dosen utamanya adalah Ibu Dewi dan Bapak Farid.
Bapak Farid sangat sibuk, beliau selalu meluangkan waktu 2 jam pertama untuk menjawab pertanyaan mahasiswa yang mengalami kesulitan terkait dengan skripsi mereka.
Ibu Dewi senantiasa hadir dan meladeni pertanyaan demi pertanyaan seputar skripsi.
Ibu Dewi pintar dan baik hati. Beliau selalu menawarkan anak didiknya untuk meminjam buku-buku Humas di rumahnya.
Kabarnya memang beliau memliki perpustakaan mini dirumahnya.
Menakjubkan.

Nah, ini minggu kedua Ibu Diah dihadirkan di kelas sebagai dosen pembantu Ibu Dewi karena banyaknya mahasiswa yang ingin berkonsultasi.
Sebelumnya, saya pernah berkonsultasi dengan Ibu Dewi juga dengan Bapak Farid.
Namun, hari itu, entah mengapa saya ingin sekali berkonsultasi dengan Ibu Diah.

Akhirnya, saya mendapat giliran.
Karena baru pertama konsultasi, maka saya bermaksud menceritakan dari awal tema yang ingin saya ambil untuk skripsi saya.
Sesi konsultasi berjalan seru.
Dan ada beberapa hal yang saya ingat.
Hal hal yang menohok, namun membangun.
Hal hal yang saya sukai.

Saya : Iya Ibu, kalau saya hanya ingin fokus untuk menganalisa pola komunikasi vertikan dari karyawan sampai tingkat GM apa itu bisa?
Ibu Diah : Oh, bisa saja.
Saya : Ibu pernah bilang soal skripsi harus penting atau menarik, atau penting dan menarik. Kalau saya ambil topik itu, apa menurut ibu itu menarik?
Ibu Diah : Gak sama sekali.

lalu hening....
menohok, namun sungguh-sungguh membangun.

Saya : Oke Ibu, I know what to do. :)

percakapan lainnya,

Saya : Bu, apa benar bagus atau tidaknya penelitian kualitatif itu berdasarkan dari tebal tipisnya skripsi kita nanti?
Ibu Diah : Ya, betul. Karena kualitatif itu harus mendalam.
Saya : Oh begitu...
Ibu Diah : Tapi, kamu jangan terpaku dengan itu. Tidak akan ada sejuta kalau tidak ada seribu kan?

lalu hening kembali....
aku mulai menikmatinya.

Terima kasih Ibu Diah, atas pencerahannya.
Sampai jumpa Sabtu depan ya Ibu.

#semangatPuspa










0 comments:

Post a Comment

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see