15 September 2012

Malam itu kami berbicara panjang di bbm (blackberry messenger). Seingatku itu pertama kalinya kami berbicara sangat panjang dan sangat dalam di bbm. Aku menahan seluruh kesabaranku. Aku keluarkan semua bentuk toleransi yang aku punya. Aku hanya ingin dia menyadarinya. Bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Namun tampaknya usahaku malam itu sia-sia. Setidaknya, kami jadi tahu apa maunya.

Malam itu aku tertidur. Sekitar jam 12 malam. Aku menunggu ibu dan bapakku pulang. Namun mereka tak kunjung pulang. Akhirnya aku tertidur di sofa bed depan televisi. Sekitar jam 2 malam, aku terbangun, mataku terbuka sedikit dan kulihat ibuku sedang duduk di depan meja dan kulihat ia tampak sibuk mengetik sesuatu.

Jam 5 pagi aku terbangun karena percakapan ibu dan om ku. Aku putuskan untuk tetap menutup mata dan mendengar semua percakapannya. Mereka membahas semua percakapan antara aku dan dia.

Dia adalah kakak laki laki ku.

Pukul 6 pagi aku memutuskan untuk pindah ke kamar tidur tamu. Ibuku membangunkan ku dan berkata "Adek kuliah gak? Ini tanggal 15 September lho" Kubuka mataku sedikit, kulihat ia sedang melipat mukena dan sajadah yang habis digunakannya. Aku berkata "Gak mami" sambil kembali menutup mataku.

Tiba-tiba kudengar ia berkata sambil menangis sesegukan "Dek...masa ibu dibilang dorong kursi yang buat nopang kakinya suci...

Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku lihat sekali lagi. Wanita tua itu masih melipat mukenanya sambil menangis tersedu sedu. Kulihat matanya bengkak. Kulihat ia menahan rasa sedih yang luar biasa. Wanita itu....ia sungguh tak kuasa menahan tangisnya.

Aku bahkan tak sanggup memeluknya. Aku terlalu rapuh untuk menolongnya. Aku hanya sanggup berkata, "udah mami....udah.....jangan dipikirin lagi ya...dia emang begitu". Ya Allah, pagi itu aku bagaikan tersambar petir.

Wanita tua itu jelas tidak tidur sejak ia pulang.

Mulai detik itu aku bertekad, dengan atau tanpa kakak laki-laki ku, aku sendiri yang akan menjaga ibu dan bapakku. Sampai akhir hayat mereka. Aku sendiri yang akan merawat mereka di masa tua mereka. Aku rasa sudah lama aku kehilangan sosok seorang kakak laki laki ku. Ya kami memang kurang akur. Sejak kecil. Kami pernah mengalami tawa bersama, namun seingatku, sudah bertahun tahun lamanya kami tidak terlalu sering berbagi.

Lebih tepatnya, kami tidak pernah berbagi. Apapun yang kami bicarakan hanya seputar hal hal ringan. Kami tidak pernah saling bercerita. Kami tidak pernah saling mengadu. Kami tidak pernah pergi hangout bersama. Kami tidak pernah melakukan kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan kakak dan adik pada umumnya.

Mungkin bukan kehilangan, mungkin memang aku tidak pernah memilikinya.

Mungkin nanti, suatu saat nanti, kakakku akan mengerti rasanya menjadi orang tua. Semoga belum terlambat baginya untuk menyadari itu. Semoga tidak ada lagi masa dimana ia membuat ibu dan bapakku meneteskan air mata. Dan semoga ia selalu bisa menjadi pribadi yang baik dimata orang lain, dan selalu menjaga nama baik keluarga dimanapun ia berada.

Ya Allah, berikanlah kesabaran dan ketabahan bagi kedua orang tua ku.
Dan berikanlah petujuk baginya yang sedang tersesat.






0 comments:

Post a Comment

 

Self Quote

wherever you stand, stand like a model. whatever you do, do like a pro.

Instagram

Meet The Author

me? oh. I have 3 sides. (1) the quite and sweet side (2) the fun and crazy side (3) the side you never want to see